Sabtu, 29 Mei 2021

ILMU TASHAWWUF BUKAN BID'AH (Oleh: KH. Ahmad Ishomuddin)

 Ada sebagian kecil umat Islam yang merasa benar sendiri dalam beragama dan punya hobi memaksakan kehendaknya menuding bahwa ajaran tashawwuf yang diajarkan oleh para ulama itu bid'ah, yakni mengada-adakan perkara baru dalam urusan agama tanpa ada contoh dari Rasulullah shalla Allahu 'alaihi wa sallama . Tudingan keji bahwa tashawwuf itu bid'ah benar dan jauh panggang dari api, karena sebenarnya tashawwuf itu diperoleh dari sejarah Rasulullah shalla Allahu 'alaihi wa sallama dan dari para sahabatnya yang mulia.

Perilaku ahli tashawwuf terkemudian pada dasarnya meneladani perilaku para sahabat Nabi dan generasi sebelum mereka (tabi'in) meskipun mereka tidak menamakan diri mereka sebagai kaum sufi (mutashawwifin). Mereka menjalani hidup dengan penuh keikhlasan karena Tuhan bukan karena diri sendiri, menghiasi diri dengan sifat zuhud, selalu menjaga ibadah, dengan sepenuh dan jiwa menghadap Allah dalam keseluruhan waktunya. Mereka tidak mencukupkan diri hanya dengan berikrar dalam akidah keimanan dan menunaikan rukun-rukun Islam belaka, melainkan menyertainya dengan upaya untuk mencicipi kelezatan dengan rasa, menambahnya dengan apa saja yang dilakukan oleh Rasulullah berupa ibadah-ibadah sunnah, dan menjauhkan diri dari apa saja yang makruh lebih-lebih lagi dari apa saja yang diharamkan,

Demikian pula yang dilakukan oleh generasi berikutnya, tabi 'al-tabi'in. Tiga generasi terbaik telah mengamalkan dan menginspirasi lahirnya ajaran tashawwuf yang tiada lain adalah ajaran Rasulullah shalla Allahu 'alaihi wa sallama tentang al-ihsan yang menjadi salah satu dari tiga rukun agama selain dari al-Islam dan al-Iman. Al-Islam adalah ketaatan dan ibadah, al-Iman adalah cahaya kebenaran dan aqidah, sedangkan al-Ihsan adalah maqam muraqabah dan musyahadah.

Ilmu tashawuf oleh sebagian ulama disebut ilmu batin yaitu ilmu yang berfungsi untuk membersihkan hati. Dengan ilmu yang diketahui tata cara untuk membersihkan hati dari segala macam cacat cela jiwa manusia dan sifat-sifat buruknya, seperti iri-dengki, suka pujian, riya ', sombong, tamak, kikir, pendendam, pemarah, penghormatan karena kekayaan, meremehkan orang- orang fakir, dan sebagainya, untuk selanjutnya menghiasi diri dengan sifat-sifat kesempurnaan seperti taubat, taqwa, istiqamah, jujur, ikhlas, wara ', tawakkal, ridla, cinta, zikir, dan selalu merasa dalam pengawasan Allah ta'ala (muraqabah). Oleh karena itu, ilmu ini wajib dipelajari oleh setiap umat Islam (fardlu 'ain), karena pada hari kiamat kelak yang paling penting adalah menghadap Allah dengan hati yang suci, dalam firman Allah,

يوم لا ينفع مال ولا بنون إلا من أتى الله بقلب سليم. (الشعراء : -٨٩(

"(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak digunakan, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (Qs. Al-Syu'ara ': 88-89)

dan sabda Rasulullah shalla Allahu 'alaihi wa sallama,

إن الله لا ينظر إلى أجسامكم ولا إلى صوركم ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم (أخرجه مسلم(

"Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh-tubuh kalian, tidak pula rupa-rupa kalian, tetapi Allah melihat hati kalian dan amal-amal kalian." 

(HR. Muslim)

GODAAN PARA MURIDIN THORIQOH

Ujian paling awal yang dijumpai para calon pengikut thoriqoh isyarat perkara niat. Apakah motivasi masuk thoriqoh itu betul betul didasari oleh niat ikhlas sendiri-mata menjalankan perintah Alloh dan Rosululloh, ataukah niat niat yang lain. Kenyataannya tak sdkt org masuk thoriqoh telah jatuh pada filter pertama lantaran salah soal NAWAITU ini. Ada yang niat karena mengikuti ajakan teman, niat mencari kesembuhan, niat mencari kemakmuran ekonomi, atau sungkan kepada orang tuanya. Ada niat untuk kepantasan dimata masyarakat, ada niat yang peduli bisa ilmu pengobatan, ada niat untuk kesaktian dll. Bagi penempuh jalan Thoriqoh harus berhati hati pada kesalahan niat ini, karena akan berpengaruh pada kepercayaannya kelak.

Dan setelah masuk thoriqoh, kerapkali muncul godaan godaan yang mengiringi para penempuhnya. Ada godaan yang timbul dari luar diri kita seperti masalah beratnya perekonomian, fitnahan dari orang lain, masalah pekerjaan, keluarga dll. Ada pula godaan yang muncul dari diri kita sendiri, diantara bisa dikelompokkan sebagai berikut:


A. SEBELUM DAN KETIKA AMALIYAH 

1.     Kasal

Kasal artinya malas. Malas untuk menjalankan ibadah kepada Alloh SWT, padahal mereka dpt dan sanggup sebenarnya utk melaksanakannya. Kasal ini terdekat menghantui dalam fikiran dan hati manusia yang menjalani amaliyah thoriqoh. Kesempatan ada kemampuan juga ada tapi malas untuk melaksanakannya. Terkadang untuk menutup nutupi rasa malasnya konflik yang tidak dipersalahkan orang lain maka ia akan mencari alasan dan argumentasi agar tidak dipersalahkan karena kemalasannya tersebut.

2.     Futur / Syakk

Bimbang dan ragu ragu atau lemah sendirian, tidak memiliki tekad yang kuat. Terkadang muncul keragu raguan dalam hati, apakah amalan yang baik tersebut dilaksanakan ataukah tidak. Adakalanya bimbang karena terbayang bayang beratnya menjalani amalan tersebut, terkadang bimbang apakah ia akan merasakan hasil atau manfaatnya atau hanya sia-sia. Adakalanya bimbang apakah mampu menghadapi rintangan, atau bisa jadi bimbang karena tarik menarik mana yang lebih penting antara urusan urusan dan urusan ukhrowi. 

3.     Malal

Malal artinya bosan dan jenuh. Kadangkala hati manusia dihantui oleh fikiran dan perasaannya sendiri karena sudah menjalani berbagai macam amaliyah yang baik dalam thoriqoh. Sudah berpuluh puluh tahun tahun, tapi tetap saja tidak ada peningkatan kesejahteraan yang dapat dirasakannya, sehingga menganggap bahwa amaliyah baik yang sudah dijalankannya selama ini seperti tidak ada manfaatnya apa apa. Akhirnya bosan dan jemu kemudian secara aja kadarnya saja, bahkan muncul sifat meremehkan amal ibadah itu sendiri.

Timbulnya hal tersebut di atas adalah disebabkan kurang kuatnya para keimanan, keyakinan kurang mantapnya dan banyak ditentukan oleh hawanya sendiri. Jika hal hal tersebut dibiarkan saja bersarang dalam pikiran dan hati kita maka bisa mengakibatkan gagalnya mencapai tujuan dalam berthoriqoh.


B.   KETIKA DAN SESUDAH AMALIYAH

Sedangkan hal hal yang juga sering berdoa dan menghalangi pada saat sedang dan sesudah melaksanakan ritual amaliyah thoriqoh, di antaranya:

1.     Riya'

Riya 'ialah ingin dipuji puji manusia. Sengaja mempertontonkan atau menampakkan nampakkan ibadah atau amalnya kepada orang lain, atau ada suatu maksud tertentu "selain Alloh".

Ingat manusia tidak bisa menjadi baik hanya karena pujian dan manusia tidak bisa menjadi buruk hanya karena celaan. Manusia yang ibadah dengan niat ingin dipuji manusia maka sebenarnyalah dia sidak menyembah kepada Alloh tetapi menyembah kepada sesuatu atau manusia yang diharapkan pujiannya tersebut.

2.     Sum'ah

Sengaja menceritakan tentang amal ibadahnya kepada orang lain bahwa dia beramal dengan ikhlas karena Alloh, dengan maksud agar orang lain menganggapnya orang yang mulia dalam urusan agama. Dirinya tidak tepat karena ingin dipuji orang atau karena sesuatu selain Alloh Ta'ala, dirinya itu tawadhu ', padahal dibalik apa yang lamarannya itu justru berharap akan orang lain menganggapnya sebagai manusia yang ikhlas dan selalu menjaga kebersihannya.

3.     Ujub

Membangga banggakan diri, rasa diri hebat yang timbul dari dalam perasaan karena merasa banyaknya amal ibadah, tidak dirasakan bahwa semua adalah semata-mata karena mata dan rohmat Alloh. Karena telah melakukan banyak ibadah sehingga menganggap dirinya lebih taat kepada Alloh, lebih mulia dihadapan Alloh, lebih berilmu dan lebih shobar dibandingkan orang lain.

4.     Hajbun

Hajbun artinya hijab / dinding / tabir. Dinding yang dimaksud adalah terkena dan kagum atas keindahan amalnya. Sehingga tertahan pandangan hatinya kepada kekaguman itu dan akhirnya berputar disitu saja. Beragam godaan dari dalam hati tersebut sebenarnya berpangkal dari penyakit syirik khofi (syirik tersembunyi).

 Apabila godaan tersebut dibiarkan bersarang dalam hati para penempuh jalan thoriqoh maka hal itu bisa menjadi 'penyamun' yang senantiasa menjegal dan menggagalkan perjalanan manusia untuk mencapai tujuan thoriqoh.

 

 


Senin, 07 November 2016

Memahami Ajaran Tasawwuf

Tasawwuf atau Sufisme adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan bathin serta untuk memperoleh kebahagian yang abadi. Sesungguhnya ajaran tasawwuf bukanlah ilmu yang berdiri sendiri, namun masih merupakan satu kesatuan dari tata cara peribadatan dari ajaran tauhid.

Kaum syareat yang memahami agama secara kaku menafikan keberadaan Tasawwuf sebagai sisi bathin dalam ajaran Islam, mereka berkata dalam agama Islam tidak ada paham Tasawwuf,paham sufi itu bukan dari ajaran Islam, karena sebagian ajaran sufi itu campuran dari ajaran agama-agama lain yang diambil dan diwarisi dari ajaran kerahiban Nashrani, Brahma Hindu, ibadah Yahudi dan zuhud Buddha, walau tidak sedikit dari ajaran sufi itu mengandung unsur-unsur ajaran Islam.

Padahal ajaran tasawwuf ini sudah ada semenjak nabi adam, karena ajaran ini termasuk ajaran dari agama tauhid. Adanya sisi bathin (tasawwuf) yang terdapat dalam ajaran-ajaran Kristen, Yahudi, Hindu, Buddha, dll,, ajaran yang sudah ada sebelumnya malah memperkuat status kebenaran dari ajaran tasawwuf, karena tentunya harus ada benang merah antara agama-agama yang besar, dan agama-agama terdahulu dengan agama islam, karena kemungkinan besar ajaran-ajaran tersebut dulunya sempat benar, sehingga masih ada sisa-sisa kebenaran yang mirip dengan Tasawwuf sebagai sisi bathin dari ajaran Islam, hal ini karena Islam adalah ajaran penyempurna sehingga tidak harus sepenuhnya baru dan juga tidak harus menghapus peninggalan dari ajaran-ajaran yang terdahulu.

Sejak zaman Rasulullah Tasawwuf sudah dikenal diajarkan dan diamalkan beliau, namun pada saat itu belum dinamakan dengan nama tasawwuf, Akan tetapi Bernama "Tharikatus Sirriyah" karena sesungguhnya tasawwuf bukanlah agama atau golongan tertentu, melainkan jalan atau tata cara bagaimana mempraktekan diri untuk mendekatkan diri pada Tuhan dengan menyatukan hati, fikiran dan tingkah laku, yang ditujukan hanya kepada Allah Rabbul Alamin saja.

Sebagian orang juga berpendapat bahwa ajaran tasawwuf merupakan teori baru yang di munculkan oleh para syech dari tharekatnya masing-masing. Dan sebagian juga menilai bahwa ajaran tasawwuf tidak memilliki sumber yang jelas. Pandangan ini sangat keliru dan tidak beralasan, karena cenderung memisahkan ajaran tasawwuf dengan ajaran Islam yang mereka kenal selama ini.

Yang benar para syech dari tharekat sufi ini hanya meneruskan dan mengajarkan kembali dari apa-apa yang mereka dengar, lihat dan yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW. Karena landasan dasar Tasawwuf di zaman Rasulullah adalah Zuhud dan Wara' sebagaimana yang termaktub didalam Hadits Bukhari-Muslim yang sudah pasti jelas shahih.

Sesungguhnya adanya ajaran tasawwuf itu sejalan dengan kehadiran Islam. Rasulullah shollallahu Alaihi wasallam. Sendiri sebelum di angkat sebagai Nabi, beliau telah mengamalkan tasawwuf dalam kehidupan bathinnya dan mengasingkan diri. Karena jalan tasawwuf itu menitik beratkan pada jalan yang di tempuh untuk menuju kepada Tuhan. Rasulullah pada saat itu terus menerus membersihkan jiwa dengan cara amaliyahnya, yakni menyendiri ke Gua Hira selama kurang lebih 23 thn sampai beliau diangkat menjadi Nabiyullah. Di samping itu beliau terlebih dahulu telah berhasil menata hatinya agar bersifat qanaah. Menjaga hati dari sifat-sifat tercela seperti : hasud, sombong, dengki, riya’, ujub, takabur, musyrik serta sifat-sifat tercela lainnya.

Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad diangkat menjadi Nabi karena keluhuran akhlaknya, namun sesungguhnya memang keluhuran itu adalah kehendak Allah atasnya sebagai tanda dari kenabiannya. Kejernihan jiwanya yang terus-menerus memperkuat aqidahnya kepada Allah. Dimana ketika orang-orang arab beragama dan mengakui adanya Tuhan, tetapi masih bercampur aduk dengan kemusyrikan. Mereka mengakui bahwa di sisi Tuhan masih ada kekuatan lain, sehingga mereka menyembah berhala-berhala di lingkungan Ka’bah. Kenyataan yang demikian itu tidak di sukai oleh Rasululllah shollallahu alaihi wasallam. Didalam hati Rasulullah tidak ingin menyekutukan Allah dengan tuhan-tuhan berhala di sekitar ka’bah sebagaimana mereka sembah.

Jadi sesungguhnya Rasulullah adalah orang pertama yang mengenalkan dan menerapkan ajaran sufi dalam Islam dalam kehidupannya sehari-hari, walau pada saat itu belum ada perintah khusus untuk hal tersebut untuk mengajarkan (tasawwuf atau sufi) kecuali Zuhud dan Waro' (Dasar Kesufian atau Tasawwuf). Hanya saja sebelum wahyu pertama dan ajaran Islam diterima Nabi Muhammad SAW, Rasulullah hanya menjalankan sebatas Ajaran Hanif Nabi Ibrahim A.S yang masih diajarkan oleh kakek dan paman juga kedua orang tua Rasulullah SAW, Jadi Kesufian Rasulullah waktu itu hanya sebatas pada amaliyah pribadi dan dengan caranya sendiri. Sampai pada peristiwa rasulullah menerima wahyu pertama kali di gua hira dan peristiwa Isra' mi'raj sebagai Penyempurnaan Hakikat dan Ma'rifat dari agama islam.

Namun sayangnya pemahaman orang awam dizaman sekarang mengatakan bahwa ilmu tasawwuf ini hanya dimiliki oleh orang-orang khawwas (orang-orang khusus). Orang-orang khawwas yang mereka maksud adalah mereka yang sudah mencapai tingkatan ma'rifat. Padahal sesungguhnya tasawwuf adalah dasar dari Dinnul Islam, ajaran ini hanya sebagian tangga dari tata cara untuk menggapai tangga-tangga ma'rifat. Sebagaimana perintah Allah dalam Sunnah Nabi "Awaludin Ma'rifattullah" awal beragama adalah Mengenal Allah, mengenali TuhanNya.

Ajaran Tasawwuf bukanlah ajaran mistik yang mengarah pada mitos, Sihir dan perdukunan. Selama ini orang awam menganggap bahwa belajar ilmu ma'rifat akan menjadikan manusia itu khos (istimewa), mengerti hal-hal ghaib, dapat menyingkap takdir, bisa berhubungan dengan roh yang sudah mati dan sejuta cerita-cerita yang berlebihan yang justru akan menyesatkan niat dan tujuan mereka dari awal. Oleh karena itu saya hanya ingin meluruskan pemahaman dalam ajaran tasawwuf ini.

Sesungguhnya barang siapa yang berkata bahwa dirinya berada pada jalan ma'rifat, namun tujuannya adalah sebuah keistimewaan dari sebuah karomah atau kesaktian atau pun sesuatu yang dapat mengangkat derajatnya yang notabene masih dalam tatanan keduniawian, maka sesungguhnya orang tersebut bukan berada pada jalan tasawwuf. Karena jalan tasawwuf tujuannya tidak lain adalah menyatukan hati (niat) dan diri (amal), lahir dan bathin hanya kepada Allah semata dan hanya mengharapkan ridha Allah saja tanpa ada pengharapan kepada selain-Nya.

Jika kita pernah mendengar cerita tentang seorang syech yang dapat menghilang, bisa terbang, mampu membuat orang sakit dan bisa menyembuhkannya, jika shalat jum’at ia dapat shalat jum’at di Makkah di masjidil haram. Lalu di ceritakan oleh murid-muridnya itu bahwa dalam sekejap ia mampu kembali ketanah air. cerita ini memang ada benarnya, akan tetapi yang perlu diingat hal ini terjadi bukan karena kepintaran atau keahlian syech tersebut akan tetapi hal ini terjadi atas Idzin dan Kehendak Allah semata yang diperuntukkannya sebagai Tanda-tanda Kebesaran Allah Terhadap Hamba-hamba-Nya Yang Dia Kehendaki.

Jika ada yang dapat melakukan hal-hal yang tidak wajar, dan diluar nalar logika maka sesungguhnya hal ini bagian dari karomah para wali yaitu karomah dari kesucian hati mereka, mereka disebut juga sebagai wali-wali khawwas.(Hamba-hamba yang di khususkan Allah yang disebut Kekasih-NYA), dalam Islam dikenal yang namanya Mukjizat yang di khususkan pada para Nabi Allah, dan Karomah ini di tujukan kepada para kekasih-Nya yaitu Waliyullah.

Tapi janganlah salah paham bahwa dalam tasawwuf bukanlah ini yang jadi tujuan utama, karena tujuan tasawwuf adalah pendekatan diri pada Allah (Taqarrub) dengan sebenar-benarnya penghambaan.

Dan keistimewaan yang dimiliki dari seseorang tidak selamanya itu adalah para wali atau disebut karomah.
Adalagi yang disebut Istidraj, banyak orang yang ingkar padaNya, namun dia bisa melakukan hal-hal yang di luar nalar kita, maka Allah juga memberikan mereka kesaktian berupa ilmu sihir dll, itulah yang di sebut Istidraj.

Oleh karena itu janganlah menilai derajat seseorang berdasarkan keistimewaan yang dimilikinya, Ingatlah pula sesungguhnya Iblis dapat mengitari bumi dalam sekejap mata, lalu apakah kita akan menganggap Iblis adalah waliyullah, tentu tidak.

Sesungguhnya ajaran tasawwuf tidaklah menyuguhkan tentang keajaiban-keajaiban yang di pamer-pamerkan, Kecuali sebatas keajaiban qolbu dan ke Akbaran Allah swt. Justru insan kamil yang sudah sampai pada tingkat ma'rifat, dia akan semakin Arif. Arif dalam mengenali dirinya, Arif dalam mengenali Tuhannya, Arif dalam mengenali kehidupannya, dan Arif dalam mengenali segala hal yang telah Allah suguhkan padanya. Ibarat padi yang semakin berisi semakin merunduk. Semakin tinggi derajadnya maka semakin tidak menampakkan bahwa dia ahli.

Ada satu perintah dari Rasulullah agar Janganlah kalian terlalu menampakkan keimanan kalian kepada orang lain, jika mereka mengetahuinya niscaya mereka akan berusaha merusak keimanan kalian.

Jumat, 04 November 2016

Muqoddimah


Berkat Hidayah dan Rahmat Allah SWT, serta memohon syafa’at Rosul Muhammad SAW, sambil mengharap keberkahan para Ulama dan Aulia Sholihin.

Nawaitu kami dalam menyusun blog yang sederhana ini adalah semata-mata untuk memantapkan keshahihan dan amaliyah para pengamal thariqah, khususnya Thariqah Qodiriyyah Wa Naqsyabandiyyah, yang tujuannya adalah, agar orang yang baru mengenal atau pengamal Thariqah tidak hanya sebatas mengamalkan dzikir saja tapi dengan adanya buku yang sederhana ini, diharapkan mereka akan lebih mengenal dan faham tentang sejarah perkembangan masuknya Thariqah Qodiriyah Naqsyabandiyah ke Indonesia hingga ke Cirebon, ataupun yang berkaitan dengan pengertian dan macam-macam dzikir dan pengertian dan macam-macam Lathifah serta Muroqobah, yang penjelasannya pun mungkin masih sangat singkat dan sederhana, maka untuk lebih jelasnya lagi disini diperlukan bimbingan seorang Guru Thariqah.

Harapan kami, mudah-mudahan blog yang sangat sederhana ini, bisa bermanfaat dan maslahat untuk kami khususnya dan para pengamal Thariqah pada umumnya.

Kami mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada KH. Hasan Mutsanna dan KH.Muhammad Hamid bin KH. Abdullah Qosim yang telah memberikan dukungan dan bimbingan spritual kepada kami, juga para sahabat yang telah membantu penyusunan buku ini, sehingga tulisan ini bisa sampai kehadapan para pembaca yang budiman.


Kami sadar bahwa dalam penyusunan buku ini masih banyak kekurangan dalam berbagai segi, oleh karena itu, kami mengharap kepada pembaca blog ini untuk mengoreksi dan membenarkan (mentashih) nya, agar kelak dapat disempurnakan serta bermanfaat dan mashlahat. 

Pada akhirnya, apa yang kami lakukan dalam penyusunan blog ini, tiada lain dalam rangka mengamalkan, mengamankan dan melestarikan ajaran Thariqah Qodiriyyah Wa Naqsyabandiyyah Astana Gunungjati Cirebon.

Semoga Allah SWT melimpahkan Rahmat, Taufik, dan Hidayah-Nya kepada kita semua. Amiin.   

Cirebon, 4 Nopember 2016


Penyusun