Tasawwuf atau Sufisme adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan bathin serta untuk memperoleh kebahagian yang abadi. Sesungguhnya ajaran tasawwuf bukanlah ilmu yang berdiri sendiri, namun
masih merupakan satu kesatuan dari tata cara peribadatan dari ajaran tauhid.
Kaum syareat yang
memahami agama secara kaku menafikan keberadaan Tasawwuf sebagai sisi bathin dalam ajaran Islam, mereka berkata dalam agama Islam tidak ada paham Tasawwuf,paham sufi itu bukan dari ajaran Islam, karena sebagian ajaran sufi itu campuran dari ajaran agama-agama lain yang diambil dan diwarisi dari ajaran kerahiban Nashrani, Brahma Hindu, ibadah Yahudi dan zuhud Buddha, walau tidak sedikit dari ajaran sufi itu mengandung unsur-unsur ajaran Islam.
Padahal ajaran tasawwuf
ini sudah ada semenjak nabi adam, karena ajaran ini termasuk ajaran dari agama tauhid. Adanya sisi bathin (tasawwuf) yang terdapat dalam ajaran-ajaran Kristen, Yahudi, Hindu, Buddha, dll,, ajaran yang sudah ada sebelumnya malah memperkuat status kebenaran dari ajaran tasawwuf, karena tentunya harus ada benang merah antara agama-agama yang besar, dan agama-agama terdahulu dengan agama islam, karena kemungkinan besar ajaran-ajaran tersebut dulunya sempat benar, sehingga masih ada sisa-sisa kebenaran yang mirip dengan Tasawwuf sebagai sisi bathin dari ajaran Islam, hal ini karena Islam adalah ajaran penyempurna sehingga tidak harus sepenuhnya baru dan juga tidak harus menghapus peninggalan dari ajaran-ajaran yang terdahulu.
Sejak zaman Rasulullah
Tasawwuf sudah dikenal diajarkan dan diamalkan beliau, namun pada saat itu
belum dinamakan dengan nama tasawwuf, Akan tetapi Bernama "Tharikatus
Sirriyah" karena sesungguhnya tasawwuf bukanlah agama atau golongan
tertentu, melainkan jalan atau tata cara bagaimana mempraktekan diri untuk
mendekatkan diri pada Tuhan dengan menyatukan hati, fikiran dan tingkah laku,
yang ditujukan hanya kepada Allah Rabbul Alamin saja.
Sebagian orang juga
berpendapat bahwa ajaran tasawwuf merupakan teori baru yang di munculkan oleh
para syech dari tharekatnya masing-masing. Dan sebagian juga menilai bahwa
ajaran tasawwuf tidak memilliki sumber yang jelas. Pandangan ini sangat keliru
dan tidak beralasan, karena cenderung memisahkan ajaran tasawwuf dengan ajaran
Islam yang mereka kenal selama ini.
Yang benar para syech
dari tharekat sufi ini hanya meneruskan dan mengajarkan kembali dari apa-apa
yang mereka dengar, lihat dan yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW. Karena
landasan dasar Tasawwuf di zaman Rasulullah adalah Zuhud dan Wara' sebagaimana
yang termaktub didalam Hadits Bukhari-Muslim yang sudah pasti jelas shahih.
Sesungguhnya adanya
ajaran tasawwuf itu sejalan dengan kehadiran Islam. Rasulullah shollallahu
Alaihi wasallam. Sendiri sebelum di angkat sebagai Nabi, beliau telah
mengamalkan tasawwuf dalam kehidupan bathinnya dan mengasingkan diri. Karena
jalan tasawwuf itu menitik beratkan pada jalan yang di tempuh untuk menuju
kepada Tuhan. Rasulullah pada saat itu terus menerus membersihkan jiwa dengan
cara amaliyahnya, yakni menyendiri ke Gua Hira selama kurang lebih 23 thn
sampai beliau diangkat menjadi Nabiyullah. Di samping itu beliau terlebih
dahulu telah berhasil menata hatinya agar bersifat qanaah. Menjaga hati dari
sifat-sifat tercela seperti : hasud, sombong, dengki, riya’, ujub, takabur,
musyrik serta sifat-sifat tercela lainnya.
Ada juga pendapat yang
menyatakan bahwa Nabi Muhammad diangkat menjadi Nabi karena keluhuran
akhlaknya, namun sesungguhnya memang keluhuran itu adalah kehendak Allah
atasnya sebagai tanda dari kenabiannya. Kejernihan jiwanya yang terus-menerus
memperkuat aqidahnya kepada Allah. Dimana ketika orang-orang arab beragama dan
mengakui adanya Tuhan, tetapi masih bercampur aduk dengan kemusyrikan. Mereka
mengakui bahwa di sisi Tuhan masih ada kekuatan lain, sehingga mereka menyembah
berhala-berhala di lingkungan Ka’bah. Kenyataan yang demikian itu tidak di
sukai oleh Rasululllah shollallahu alaihi wasallam. Didalam hati Rasulullah
tidak ingin menyekutukan Allah dengan tuhan-tuhan berhala di sekitar ka’bah
sebagaimana mereka sembah.
Jadi sesungguhnya
Rasulullah adalah orang pertama yang mengenalkan dan menerapkan ajaran sufi
dalam Islam dalam kehidupannya sehari-hari, walau pada saat itu belum ada
perintah khusus untuk hal tersebut untuk mengajarkan (tasawwuf atau sufi)
kecuali Zuhud dan Waro' (Dasar Kesufian atau Tasawwuf). Hanya saja sebelum
wahyu pertama dan ajaran Islam diterima Nabi Muhammad SAW, Rasulullah hanya
menjalankan sebatas Ajaran Hanif Nabi Ibrahim A.S yang masih diajarkan oleh
kakek dan paman juga kedua orang tua Rasulullah SAW, Jadi Kesufian Rasulullah
waktu itu hanya sebatas pada amaliyah pribadi dan dengan caranya sendiri.
Sampai pada peristiwa rasulullah menerima wahyu pertama kali di gua hira dan
peristiwa Isra' mi'raj sebagai Penyempurnaan Hakikat dan Ma'rifat dari agama
islam.
Namun sayangnya pemahaman
orang awam dizaman sekarang mengatakan bahwa ilmu tasawwuf ini hanya dimiliki
oleh orang-orang khawwas (orang-orang khusus). Orang-orang khawwas yang mereka
maksud adalah mereka yang sudah mencapai tingkatan ma'rifat. Padahal
sesungguhnya tasawwuf adalah dasar dari Dinnul Islam, ajaran ini hanya sebagian
tangga dari tata cara untuk menggapai tangga-tangga ma'rifat. Sebagaimana
perintah Allah dalam Sunnah Nabi "Awaludin Ma'rifattullah" awal
beragama adalah Mengenal Allah, mengenali TuhanNya.
Ajaran Tasawwuf bukanlah
ajaran mistik yang mengarah pada mitos, Sihir dan perdukunan. Selama ini orang
awam menganggap bahwa belajar ilmu ma'rifat akan menjadikan manusia itu khos
(istimewa), mengerti hal-hal ghaib, dapat menyingkap takdir, bisa berhubungan
dengan roh yang sudah mati dan sejuta cerita-cerita yang berlebihan yang justru
akan menyesatkan niat dan tujuan mereka dari awal. Oleh karena itu saya hanya
ingin meluruskan pemahaman dalam ajaran tasawwuf ini.
Sesungguhnya barang siapa
yang berkata bahwa dirinya berada pada jalan ma'rifat, namun tujuannya adalah
sebuah keistimewaan dari sebuah karomah atau kesaktian atau pun sesuatu yang
dapat mengangkat derajatnya yang notabene masih dalam tatanan keduniawian, maka
sesungguhnya orang tersebut bukan berada pada jalan tasawwuf. Karena jalan
tasawwuf tujuannya tidak lain adalah menyatukan hati (niat) dan diri (amal),
lahir dan bathin hanya kepada Allah semata dan hanya mengharapkan ridha Allah
saja tanpa ada pengharapan kepada selain-Nya.
Jika kita pernah
mendengar cerita tentang seorang syech yang dapat menghilang, bisa terbang,
mampu membuat orang sakit dan bisa menyembuhkannya, jika shalat jum’at ia dapat
shalat jum’at di Makkah di masjidil haram. Lalu di ceritakan oleh
murid-muridnya itu bahwa dalam sekejap ia mampu kembali ketanah air. cerita ini
memang ada benarnya, akan tetapi yang perlu diingat hal ini terjadi bukan karena
kepintaran atau keahlian syech tersebut akan tetapi hal ini terjadi atas Idzin
dan Kehendak Allah semata yang diperuntukkannya sebagai Tanda-tanda Kebesaran
Allah Terhadap Hamba-hamba-Nya Yang Dia Kehendaki.
Jika ada yang dapat
melakukan hal-hal yang tidak wajar, dan diluar nalar logika maka sesungguhnya
hal ini bagian dari karomah para wali yaitu karomah dari kesucian hati mereka,
mereka disebut juga sebagai wali-wali khawwas.(Hamba-hamba yang di khususkan
Allah yang disebut Kekasih-NYA), dalam Islam dikenal yang namanya Mukjizat yang
di khususkan pada para Nabi Allah, dan Karomah ini di tujukan kepada para
kekasih-Nya yaitu Waliyullah.
Tapi janganlah salah
paham bahwa dalam tasawwuf bukanlah ini yang jadi tujuan utama, karena tujuan
tasawwuf adalah pendekatan diri pada Allah (Taqarrub) dengan sebenar-benarnya
penghambaan.
Dan keistimewaan yang
dimiliki dari seseorang tidak selamanya itu adalah para wali atau disebut
karomah.
Adalagi yang disebut
Istidraj, banyak orang yang ingkar padaNya, namun dia bisa melakukan hal-hal
yang di luar nalar kita, maka Allah juga memberikan mereka kesaktian berupa
ilmu sihir dll, itulah yang di sebut Istidraj.
Oleh karena itu janganlah
menilai derajat seseorang berdasarkan keistimewaan yang dimilikinya, Ingatlah
pula sesungguhnya Iblis dapat mengitari bumi dalam sekejap mata, lalu apakah
kita akan menganggap Iblis adalah waliyullah, tentu tidak.
Sesungguhnya ajaran
tasawwuf tidaklah menyuguhkan tentang keajaiban-keajaiban yang di
pamer-pamerkan, Kecuali sebatas keajaiban qolbu dan ke Akbaran Allah swt.
Justru insan kamil yang sudah sampai pada tingkat ma'rifat, dia akan semakin
Arif. Arif dalam mengenali dirinya, Arif dalam mengenali Tuhannya, Arif dalam
mengenali kehidupannya, dan Arif dalam mengenali segala hal yang telah Allah
suguhkan padanya. Ibarat padi yang semakin berisi semakin merunduk. Semakin
tinggi derajadnya maka semakin tidak menampakkan bahwa dia ahli.
Ada satu perintah dari Rasulullah agar Janganlah kalian terlalu
menampakkan keimanan kalian kepada orang lain, jika mereka mengetahuinya
niscaya mereka akan berusaha merusak keimanan kalian.